Jumat, 31 Oktober 2008

ladang humus






ladang humus.

Diperlukan sebuah peta hijau untuk memahami mengapa semakin banyak orang yang merumput dan harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk mencari lapangan terbuka demi sebuah kesegaran yang tidak lagi dapat mereka temukan di kulkas.

Sebuah pertanyaan singkat tapi membutuhkan jawaban yang panjang…….apakah tanah tak lagi menyimpan?.

Geliat lahan yang luas harus di benturkan dengan membengkaknya pertambahan jumlah orang yang mendiaminya. Dan diamini bahwa titipan itu di lupakan sesudahnya bahkan ketika kapling strategis diperebutkan sampai tetes darah penghabisan masalah hidup tongak di abadikan sebagai saksi

Seluruh wilayah ditumbuhi belukar. Beberapa disudut dan tepinya dijadikan penampungan dan diantaranya disisakan sedikit ruang untuk mereka yang kemudian besok mati. Kembali ketanah lagi.

Agraris, pertanian adalah sebuah usaha memaksimalkan lahan yang tersedia untuk bertahan hidup. Pola tumpang sari, tumpang tindih serentak dan hasil dituai berdasarkan musim yang dilewati.

Subur dikelola dengan hidup yang bersahaja….haluan arah akan kebutuhan yang meningkat adalah mulainya rerumputan disela-sela tanaman. Pindah ganti lahan. Humus hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah mati…

Kembali dan kembali … akhirnya kilogram, ukuran timbang dan musnahnya sistem barter dalam nominal memperluas lahan untuk usaha yang tidak lagi memerlukan [ kesuburan ] tetapi digantikan pemerkosaan atas humus yang adalah nenek moyang mereka.

Lupa adalah kunci yang harus dibayar untuk terbukannya pintu tabu berani pada alam. Dan hasrat adalah masalah terbesar untuk menumbuhkan kembali belukar.Akhirnya alat-alat itu diciptakan demi efisiensi peluh yang memang seharusnya keluar. Demi air yang selalu menetes dari langit dan sumur yang tak bosan-bosan memancar.Cara mudah mengelola bersama kemudian memunculkan dominasi, bukan pengaturan upaya tapi eksploitasi dan eksplorasi. Alat-alat tumbuh dan berkarat.

Alam berubah terkendali dankembali lagi oleh mereka yang memang harus hidup didalamnya. Rantai makanan produsen – konsumen – pengurai… diserap – dimakan – dibuang – diambil….

Silkus iu tertur dalam jarak tertentu dan itu alamiah. Tetapi adanya kepentingan membuat jejak baru dan rantaipun terputus [ Berganti haluan ]. Sang konsumen memanfaatkan konsumen yang lain untuk konsumenisme. Sang Gajah merubuhkan kayu hanya untuk sedikit daun yang sudah pasti hilang. Batang yang dahulu hanya terpatahkan kemudian semi dimusim penghujan. Hilang tinggal tombak arah yang tidak mungkin tumbuh. Tempat berteduh berganti dikandang yang dirantai dan gancu. Ow..ow..sakit dan hormat tunduk…

Raja kargo adalah sebutan baru bagi mereka yang berhasil ‘mengelola’ untuk hasil yang mencukupi. Lintas daerah, lintas pulau, lintas Negara bahkan bagi mereka yang dapat menimbun dengan jumlah terbanyak. Alasan waktu [ yang terus berlalu ] diterima saja. Habiskan sekarang daripada besok tak adalagi bukan bagaimana cara agar tetap ada….

Sang penguasa itu teruslah memperluas lahan penggarapan. Mengambil semua. Milik orang lain dan siklus semakin tak terkendali. Gajah yang kuat itu terus melangkah hanya untuk bekerja… menimbun kotorannya….

Tumbuh dan tumbuhkan harapan rimbun. Tunas-tunas yang kemarin semai dipupuk dengan mimpi. Tai pasti jadi kompos.

catatan:
Mural ini di buat kukomikan, dimmo endar bersama masyarakat madusari wonosari dalam rangka menyambut green house madusari. bertempat di tembok stkn( bekas kuburan belanda) yang sekarang menjadi smea wonosari. Baru dikerjakan selama dua hari dari target 4 hari..sayang karena ada masalah teknis dan ganguan dari penunggu kuburan( katanya) kepada salah satu warga , hingga tidak dapat terselesaikan.
PAMERAN SENI RUPA


Tidak ada komentar:

mahkamah bumi ibadah

ingat......